Selamat membaca yaa..
One Flower Girl
Pagi hari di stasiun kereta Jeoju
Korea Selatan, yang dipadati masing-masing orang yang tengah sibuk dengan
aktivitas mereka. Salah satunya seorang gadis berambut panjang, dengan tas
ransel di punggungnya berjalan di pintu masuk stasiun. Dengan seragam sekolah
dan jas yang bertuliskan namanya di saku kiri atas. Ya, Kim Taeyeon namanya.
“Permisi, permisi.” kata Taeyeon, yang berjalan dengan
tergesa-gesa menerobos kerumunan orang yang ada di pintu masuk stasiun kereta
bawah tanah. “Aduh, tidak ada waktu lagi. Aku harus cepat nih.” katanya dalam
hati sambil melihat jam tangannya.
“Ding dong..” suara bel pengumuman stasiun berbunyi.
“Pengumuman, mohon maaf bagi penumpang kereta api jurusan Seoul kami akan tunda waktu keberangkatannya sekarang. Karena terjadi kecelakaan di jalur tersebut. Atas perhatiannya kami ucapkan terimakasih.”
“Pengumuman, mohon maaf bagi penumpang kereta api jurusan Seoul kami akan tunda waktu keberangkatannya sekarang. Karena terjadi kecelakaan di jalur tersebut. Atas perhatiannya kami ucapkan terimakasih.”
Begitu mendengar pengumuman, Taeyeon merasa sedih, karena
kereta yang diundur itu adalah kereta yang akan ia naiki. Dan itu berarti ia
tidak dapat ikut ujian masuk universitas Seoul, padahal ia sangat memimpikan
sejak lama untuk bisa melanjutkan sekolahnya disana. Namun Taeyeon tidak mau
menyerah sampai disitu, dengan cepat ia berlari keluar setasiun.
“Tap..tap..tap..” suara sepatu Taeyeon terdengar dengan
irama yang begitu cepat. Itu menandakan larinya yang begitu cepat. Rambutnya
yang panjang tergerai tertiup angin dan terombang-ambing mengikuti gerak
langkah kaki Taeyeon.
“Hosh..hosh..” ia mencoba mengatur nafasnya, dan sesekali berhenti melihat jam tangan dan tempat pemberhentian bus trans Korea.
“Kalau naik bus trans Korea, bisa. Meskipun tidak akan sampai tepat waktu.” ia terus berlari ke halte bus, yang jaraknya lumayan jauh dari stasiun.
“Hosh..hosh..” ia mencoba mengatur nafasnya, dan sesekali berhenti melihat jam tangan dan tempat pemberhentian bus trans Korea.
“Kalau naik bus trans Korea, bisa. Meskipun tidak akan sampai tepat waktu.” ia terus berlari ke halte bus, yang jaraknya lumayan jauh dari stasiun.
Ketika halte bus sudah terlihat Taeyeon yang berada disisi
jalan memutuskan untuk menyebrang. Saat Taeyeon berada di tengah jalan,
tiba-tiba dari samping, mobil sedan berwarna putih dengan kecepatan tinggi
melaju kearah Taeyeon. “Tiinnn” suara klakson mobil itu mengagetkan Taeyeon.
Secara spontan ia langsung menghindar dari terjangan mobil itu, “Jebreettt!!”
tubuh Taeyeon tertabrak bus trans Korea. Ketika Taeyeon berhasil menghindari
laju mobil sedan itu, disaat yang bersamaan bus trans Korea sedang melaju cepat
di samping mobil tersebut. Tubuh Taeyeon terguling, kepalanya membentur aspal
jalan. Darahnyapun mengalir. Suanasan saat itu sangat sepi, tidak ada satupun
orang yang lewat bahkan tidak ada yang melihatnya. Sopir bus trans Korea yang
kosong tanpa penumpang itupun pergi begitu saja, tanpa rasa tanggung jawab.
Membiarkan tubuh gadis itu tergeletak diaspal jalan.
Beberapa menit setelah peristiwa kecelakaan itu terjadi,
Taeyeon masih bisa sadar. Ia bangun dari posisi tidurnya ke posisi duduk.
“Aduh. Kepalaku..” rintih Taeyeon, tangannya mengusap kepala bagian belakang
yang terasa sakit dan merasakan sesuatu yang aneh di telapak tangannya. “Apa
ini?” ia melihat tangannya berlumuran darah. “Kenapa ada darah?” tanya Taeyeon
pada dirinya sendiri. Ia tidak tahu bahwa dirinya baru saja tertabrak oleh bus.
“Ujian masuk. ya, aku harus ikut.” katanya, meskipun dalam keadaan sakit, ia
tetap ingat dengan ujian masuk itu. Dengan ambisinya yang kuat, ia mampu
berdiri dan berjalan. Dengan langkahnya yang tertatih-tatih, bajunya yang kotor
dan rambut yang berantakan. Ia tetap ingin mengikuti ujian masuk Universitas
Seoul.
“Tap..tap..” ia terus melangkah, ia yakin ia pasti bisa.
Namun keyakinan Taeyeon tidak di respon baik oleh tubuhnya. Langkahnya kini
semakin tidak seimbang, penglihatannya mulai memudar namun ia terus bersikukuh
dan yakin bisa mengikuti ujian masuk universitas. Ia terus berjalan.
“Aku pasti bisa, Taeyeon. Kamu pasti bisa.” katanya dengan nada sedikit merintih karena merasa kesakitan. Setelah merasa sudah tidak bisa berjalan lagi dan ketika ia merasa pandangan matanya sudah mulai hitam semua, akhirnya tubuh Taeyeon terjatuh “Bukk!”. “Aku harus ikut ujian masuk Universitas Seoul” ia terus bergumam sampai tidak sadarkan diri. Tergeletak di tepi jalan raya di kota terpencil Jeoju. Taeyeonpun harus menerima keyataan bahwa ia gagal mengikuti ujian masuk Universitas Seoul yang selama ini ia impikan.
“Aku pasti bisa, Taeyeon. Kamu pasti bisa.” katanya dengan nada sedikit merintih karena merasa kesakitan. Setelah merasa sudah tidak bisa berjalan lagi dan ketika ia merasa pandangan matanya sudah mulai hitam semua, akhirnya tubuh Taeyeon terjatuh “Bukk!”. “Aku harus ikut ujian masuk Universitas Seoul” ia terus bergumam sampai tidak sadarkan diri. Tergeletak di tepi jalan raya di kota terpencil Jeoju. Taeyeonpun harus menerima keyataan bahwa ia gagal mengikuti ujian masuk Universitas Seoul yang selama ini ia impikan.
Tit..tit..tit..” terdengar suara mesin pendeteksi jantung di
ruang ICU, seorang tebaring lemah dengan infus dan tabung oksigen di
sampingnya. Seseorang laki-laki berdiri di luar ruang ICU, dan hanya
memandanginya dari luar jendela kaca dengan rasa sedih. Matanya terlihat
berkaca-kaca.
“Tap..tap..tap” terdengar banyak suara langkah kaki yang
berjalan begitu cepat. “Gredekk.. Gredeekk..” dan juga suara tempat tidur
beroda yang khas dirumah sakit.
“Siapa wali pasien ini?” tanya suster begitu ada pasien yang baru yang datang.
“Hanya tukang sapu yang menemukannya tergeletak di jalan.” jelas petugas ambulan.
“Lalu bagaimana biaya rumah sakitnya?” celetuk perawat laki-laki yang mendorong tempat tidur beroda.
“Namanya Kim Taeyeon, ia murid sekolah Jeju art high school.” seorang perawat wanita yang menemukan kartu pelajar Taeyeon.
“Tetapi, jika tidak ada wali, kita terpaksa menolaknya.”
“Kau tau dia sedang di ambang sekarat. Setidaknya kita selamatkan dia dulu, baru kita mencari walinya” terang perawat perempuan berjilbab itu.
“Tetap tidak bisa.” jelas petugas administrasi rumah sakit.
“Siapa wali pasien ini?” tanya suster begitu ada pasien yang baru yang datang.
“Hanya tukang sapu yang menemukannya tergeletak di jalan.” jelas petugas ambulan.
“Lalu bagaimana biaya rumah sakitnya?” celetuk perawat laki-laki yang mendorong tempat tidur beroda.
“Namanya Kim Taeyeon, ia murid sekolah Jeju art high school.” seorang perawat wanita yang menemukan kartu pelajar Taeyeon.
“Tetapi, jika tidak ada wali, kita terpaksa menolaknya.”
“Kau tau dia sedang di ambang sekarat. Setidaknya kita selamatkan dia dulu, baru kita mencari walinya” terang perawat perempuan berjilbab itu.
“Tetap tidak bisa.” jelas petugas administrasi rumah sakit.
Pria yang berdiri di depan ruang ICU itu melihat secara
seksama kearah suara itu berasal, yang tepat lewat di sampingnya. Pria itu
melihat secara intens kepada seorang gadis berseragam dengan luka di kepalanya
terbaring lemah. Matanya menatap wajah gadis itu, sekilas sebelum ia di
kagetkan oleh suster perawat.