Senin, 27 April 2015

One Flower Girl

Selamat membaca yaa..

One Flower Girl

Pagi hari di stasiun kereta Jeoju Korea Selatan, yang dipadati masing-masing orang yang tengah sibuk dengan aktivitas mereka. Salah satunya seorang gadis berambut panjang, dengan tas ransel di punggungnya berjalan di pintu masuk stasiun. Dengan seragam sekolah dan jas yang bertuliskan namanya di saku kiri atas. Ya, Kim Taeyeon namanya.
“Permisi, permisi.” kata Taeyeon, yang berjalan dengan tergesa-gesa menerobos kerumunan orang yang ada di pintu masuk stasiun kereta bawah tanah. “Aduh, tidak ada waktu lagi. Aku harus cepat nih.” katanya dalam hati sambil melihat jam tangannya.
“Ding dong..” suara bel pengumuman stasiun berbunyi.
“Pengumuman, mohon maaf bagi penumpang kereta api jurusan Seoul kami akan tunda waktu keberangkatannya sekarang. Karena terjadi kecelakaan di jalur tersebut. Atas perhatiannya kami ucapkan terimakasih.”
Begitu mendengar pengumuman, Taeyeon merasa sedih, karena kereta yang diundur itu adalah kereta yang akan ia naiki. Dan itu berarti ia tidak dapat ikut ujian masuk universitas Seoul, padahal ia sangat memimpikan sejak lama untuk bisa melanjutkan sekolahnya disana. Namun Taeyeon tidak mau menyerah sampai disitu, dengan cepat ia berlari keluar setasiun.
“Tap..tap..tap..” suara sepatu Taeyeon terdengar dengan irama yang begitu cepat. Itu menandakan larinya yang begitu cepat. Rambutnya yang panjang tergerai tertiup angin dan terombang-ambing mengikuti gerak langkah kaki Taeyeon.
“Hosh..hosh..” ia mencoba mengatur nafasnya, dan sesekali berhenti melihat jam tangan dan tempat pemberhentian bus trans Korea.
“Kalau naik bus trans Korea, bisa. Meskipun tidak akan sampai tepat waktu.” ia terus berlari ke halte bus, yang jaraknya lumayan jauh dari stasiun.
Ketika halte bus sudah terlihat Taeyeon yang berada disisi jalan memutuskan untuk menyebrang. Saat Taeyeon berada di tengah jalan, tiba-tiba dari samping, mobil sedan berwarna putih dengan kecepatan tinggi melaju kearah Taeyeon. “Tiinnn” suara klakson mobil itu mengagetkan Taeyeon. Secara spontan ia langsung menghindar dari terjangan mobil itu, “Jebreettt!!” tubuh Taeyeon tertabrak bus trans Korea. Ketika Taeyeon berhasil menghindari laju mobil sedan itu, disaat yang bersamaan bus trans Korea sedang melaju cepat di samping mobil tersebut. Tubuh Taeyeon terguling, kepalanya membentur aspal jalan. Darahnyapun mengalir. Suanasan saat itu sangat sepi, tidak ada satupun orang yang lewat bahkan tidak ada yang melihatnya. Sopir bus trans Korea yang kosong tanpa penumpang itupun pergi begitu saja, tanpa rasa tanggung jawab. Membiarkan tubuh gadis itu tergeletak diaspal jalan.
Beberapa menit setelah peristiwa kecelakaan itu terjadi, Taeyeon masih bisa sadar. Ia bangun dari posisi tidurnya ke posisi duduk. “Aduh. Kepalaku..” rintih Taeyeon, tangannya mengusap kepala bagian belakang yang terasa sakit dan merasakan sesuatu yang aneh di telapak tangannya. “Apa ini?” ia melihat tangannya berlumuran darah. “Kenapa ada darah?” tanya Taeyeon pada dirinya sendiri. Ia tidak tahu bahwa dirinya baru saja tertabrak oleh bus. “Ujian masuk. ya, aku harus ikut.” katanya, meskipun dalam keadaan sakit, ia tetap ingat dengan ujian masuk itu. Dengan ambisinya yang kuat, ia mampu berdiri dan berjalan. Dengan langkahnya yang tertatih-tatih, bajunya yang kotor dan rambut yang berantakan. Ia tetap ingin mengikuti ujian masuk Universitas Seoul.
“Tap..tap..” ia terus melangkah, ia yakin ia pasti bisa. Namun keyakinan Taeyeon tidak di respon baik oleh tubuhnya. Langkahnya kini semakin tidak seimbang, penglihatannya mulai memudar namun ia terus bersikukuh dan yakin bisa mengikuti ujian masuk universitas. Ia terus berjalan.
“Aku pasti bisa, Taeyeon. Kamu pasti bisa.” katanya dengan nada sedikit merintih karena merasa kesakitan. Setelah merasa sudah tidak bisa berjalan lagi dan ketika ia merasa pandangan matanya sudah mulai hitam semua, akhirnya tubuh Taeyeon terjatuh “Bukk!”. “Aku harus ikut ujian masuk Universitas Seoul” ia terus bergumam sampai tidak sadarkan diri. Tergeletak di tepi jalan raya di kota terpencil Jeoju. Taeyeonpun harus menerima keyataan bahwa ia gagal mengikuti ujian masuk Universitas Seoul yang selama ini ia impikan.
Tit..tit..tit..” terdengar suara mesin pendeteksi jantung di ruang ICU, seorang tebaring lemah dengan infus dan tabung oksigen di sampingnya. Seseorang laki-laki berdiri di luar ruang ICU, dan hanya memandanginya dari luar jendela kaca dengan rasa sedih. Matanya terlihat berkaca-kaca.
“Tap..tap..tap” terdengar banyak suara langkah kaki yang berjalan begitu cepat. “Gredekk.. Gredeekk..” dan juga suara tempat tidur beroda yang khas dirumah sakit.
“Siapa wali pasien ini?” tanya suster begitu ada pasien yang baru yang datang.
“Hanya tukang sapu yang menemukannya tergeletak di jalan.” jelas petugas ambulan.
“Lalu bagaimana biaya rumah sakitnya?” celetuk perawat laki-laki yang mendorong tempat tidur beroda.
“Namanya Kim Taeyeon, ia murid sekolah Jeju art high school.” seorang perawat wanita yang menemukan kartu pelajar Taeyeon.
“Tetapi, jika tidak ada wali, kita terpaksa menolaknya.”
“Kau tau dia sedang di ambang sekarat. Setidaknya kita selamatkan dia dulu, baru kita mencari walinya” terang perawat perempuan berjilbab itu.
“Tetap tidak bisa.” jelas petugas administrasi rumah sakit.

Pria yang berdiri di depan ruang ICU itu melihat secara seksama kearah suara itu berasal, yang tepat lewat di sampingnya. Pria itu melihat secara intens kepada seorang gadis berseragam dengan luka di kepalanya terbaring lemah. Matanya menatap wajah gadis itu, sekilas sebelum ia di kagetkan oleh suster perawat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar